Kemungkinan seseorang mantan TB untuk terinfeksi kembali tetap ada. Tidak ada kekebalan khusus yang didapat setelah terinfeksi TB sebelumnya. Menurut penelitian, sekitar 18% penderita yang telah menyelesaikan pengobatan TB secara lengkap mengalami tuberkulosis berulang.
Terkadang ini memang menjadi misteri mengapa seseorang dapat kambuh padahal kuman dalam dirinya telah dilawan. Namun teori dapat menjelaskannya. Ada kondisi-kondisi atau saat-saat dimana tuberkulosis mampu kembali menyerang.
Seseorang yang telah sembuh atau lengkap pengobatan dapat kembali kambuh bisa dikarenakan dua hal. Pertama, kuman TB kembali menginfeksi, kedua kuman TB selama ini hanya dorman. Individu dengan TB ekstraparu terkadang sulit untuk dibuktikan kesembuhannya. Artinya, secara bakteriologis sulit dipastikan negatif. Terutama pasien-pasien yang berobat di fasilitas kesehatan primer. Evaluasi pengobatan biasanya berdasarkan gejala dan durasi pengobatan. Sehingga banyak pasien TB ekstraparu dikatakan “Pengobatan Lengkap” bukan “Sembuh”.
Individu-individu dengan status “Pengobatan Lengkap” bisa jadi ternyata menyisakan sedikit kuman atau meninggalkan kuman dalam status dorman. Sehingga sewaktu-waktu kuman ini akan reaktivasi. Maka, bukan tidak mungkin seseorang yang telah menyelesaikan pengobatannya dengan lengkap tidak menderita tuberkulosis kembali. Pengobatan TB tidak memberikan proteksi saat selesai pengobatan. Hal ini perlu dijelaskan kepada pasien.
Pasien-pasien yang telah “sembuh” atau pasien yang telah dibuktikan secara bakteriologis tidak lagi memiliki kuman tuberkulosis juga memiliki peluang sakit kembali. Ada banyak faktor. Salah satunya terinfeksi kembali. Ini penyebab paling mungkin. Seperti yang telah disinggung di atas bahwa pengobatan tuberkulosis bukan seperti vaksin yang dapat memberikan proteksi pada individu yang mengonsumsinya. Jadi ketika telah selesai pengobatan, seseorang tetap dapat memiliki peluang menjadi sakit TB ketika terpapar atau tertular dari penderita TB yang lain.
Individu-individu yang memiliki faktor komorbid penyakit seperti diabetes mellitus, SLE dan HIV berisiko menderita tuberkulosis kembali sebab sistem imun mereka menurun. Mereka yang mengonsumsi obat kortikosteroid atau TNF alfa secara rutin juga memiliki sistem imun yang rendah. Akibatnya, ketika mereka terpapar infeksi dengan mudahnya tuberkulosis dapat menyerang.
Mantan penderita tuberkulosis yang masih tinggal di penjara, lingkungan kumuh dan padat serta daerah yang memiliki kasus tuberkulosis tinggi, juga memiliki risiko terinfeksi kembali. Sebab mereka tetap menerima paparan infeksi tuberkulosis.
Penderita tuberkulosis yang tidak tuntas mengonsumsi obat sudah pasti memiliki risiko kambuh. Sementara pasien yang telah tuntas pengobatan, tetap memiliki risiko kambuh meski tidak memiliki faktor komorbid ataupun kondisi-kondisi yang telah disebutkan di atas. Menurut penelitian, pengobatan tuberkulosis fase lanjutan yang selama ini dikonsumsi 3 kali seminggu ternyata memiliki risiko relaps yang tinggi. Sehingga saat ini sedang dipikirkan untuk mengembalikan program pengobatan fase lanjutan ke pengobatan rifampisin + isoniazid setiap hari selama 4 bulan.
Referensi:
- Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia)
- Pedoman Nasional Pengendalian Tuberkulosis (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia)
- Rate of Reinfection Tuberculosis after Successful Treatment Is Higher than Rate of New Tuberculosis (Suzanne Verver, Robin M. Warren, Nulda)
