Tidak bisa dipungkiri ternyata makhluk yang berukuran super kecil virus Corona mampu merobohkan banyak pilar. Jadi tidaklah heran apabila ada orang yang merasa khawatir dengan virus ini. Namun walau demikian kita terus dihimbau untuk harus tetap tenang. Sebab tidak ada gunanya khawatir berlebihan.
Salah satu kekhawatiran setiap orang adalah apakah dirinya terinfeksi Covid 19 atau tidak. Apalagi semua orang juga sudah tahu bahwa ada juga pasien yang positif Covid-19 namun tidak bergejala. Setiap orang pasti berpikiran apakah saya terinfeksi? Memang benar. Setiap orang butuh kepastian. Lalu apakah sikap untuk mengetahui diri kita positif atau tidak benar-benar perlu?
Mungkin sebagian besar orang sudah tahu bahwa untuk mengetahui seseorang terinfeksi atau tidak bisa dengan pemeriksaan swab tenggorok (apus tenggorok) dan juga rapid test. Ini bukanlah sesuatu informasi yang bersifat medis lagi tetapi hampir semua juga sudah tahu. Setiap hari media berita telah memaparkan hal-hal tentang covid 19. Setiap hari pula setiap pukul 16.00 pihak kementerian kesehatan mengumumkan update terbaru tentang covid 19 di tanah air. Demikian pula dengan pemeriksaan-pemeriksaan yang dilakukan untuk menegakkan diagnosis covid 19.
Saat ini pemeriksaan swab tenggorok bisa dikerjakan di Litbangkes Jakarta. Yang artinya semua sampel yang di ambil dari rumah sakit-rumah sakit rujukan covid-19 dikirim ke lab Litbangkes untuk diperiksa. Pemeriksaan dilakukan dengan metode PCR dan hasil akan dapat diperoleh setelah dua-tiga hari. Namun berhubung transport menuju lab dan banyaknya sampel yang mengantri juga harus diperhitungkan, maka hasil baru bisa diketahui rumah sakit pengirim setelah beberapa hari. Alternatif lain untuk mengetahui seseorang terinfeksi covid-19 atau tidak yaitu dengan rapid test covid-19.
Rapid test hadir dengan membawa harapan yang sangat besar. Karena diharapkan mampu mendeteksi lebih banyak dan lebih cepat penderita covid-19 yang positif. Harapannya dengan semakin cepat dideteksi maka semakin sedikit pula individu sehat akan tertular. Hasil dari rapid test dapat diperoleh kurang lebih 15 menit dan pengambilan sampel bisa melalui darah kapiler ataupun darah vena.
Saat ini banyak sekali rapid test covid-19 yang dijual di tengah masyarakat. Silakan cek platform online shop dan juga halaman pasar facebook. Begitu banyak rapid test yang dijual. Harganya tentu tidak murah. Jutaan. Jumlah alat dalam satu dus kecil mungkin sekitar 20 sampai 40-an. Bila dihitung-hitung, tiap alatnya tentunya tidaklah murah. Bila diselidiki ternyata banyak sekali pabrik yang telah meluncurkan rapid test covid 19 masing-masing. Beberapa diantaranya juga mencoba menyatakan bahwa produk milik mereka lebih baik dari yang lain dan sebagian yang lain menyatakan produknya lebih akuran dan lebih murah. Namanya juga persaingan produk.
Akan tetapi, di tengah situasi seperti ini, sudah pasti harga rapid test yang mahal bukan jadi penghalang untuk membeli alat ini. Apalagi budaya panic buying yang ada di tengah masyarakat mendorong kaum borjuis ingin segera membeli rapid test covid.
Namun, apakah perlu? Apakah setiap orang memang harus membeli dan mencoba rapid test covid 19 ini?
Ada beberapa alasan mengapa anda seharusnya tidak perlu membeli alat-alat ini.
1. Kurang akurat.
Ini bukan rahasia umum lagi. Rapid test covid 19 sebenarnya tidak seakurat pemeriksaan apus tenggorok (swab tenggorok). Akurasinya sekitar 80%. Selain itu rapid test juga berpeluang false positive, yang berarti positif palsu. Maksudnya hasil rapid test menyatakan positif namun sebenarnya pasien tidak terinfeksi covid 19. Demikian pula false negative, yang seharusnya positif terinfeksi covid 19 namun setelah diuji tes rapid hasilnya malah negatif.
Hasil rapid test yang negatif mengharuskan pengulangan tes sekitar 7-10 hari berikutnya untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Namun tidak semua orang yang melakukan pengulangan rapid test. Dan hasil rapid test positif tidak menjamin seseorang sudah pasti terinfeksi covid 19. Karena setelahnya harus dikonfirmasi kembali dengan swab tenggorok.
2. Bukan untuk dibeli masyarakat awam
Rapid test covid 19 seharusnya bukan untuk dibeli oleh masyarakat awam. Namun fenomena yang terjadi saat ini malah pembeli terbanyak berasal dari masyarakat awam yang tidak tahu soal kesehatan. Pengerjaan rapid test ini sebaiknya dikerjakan oleh tenaga laboratorium atau tenaga paramedis yang dilatih. Hasil kemudian dibaca oleh si pemeriksa, meksipun pembacaan hasil ini sebenarnya cukup mudah. Yaitu hanya dengan melihat jumlah garis yang muncul, entah itu satu garis atau dua garis. Tepat seperti membaca hasil test pack kehamilan. Satu garis berarti negatif. Dua garis berarti positif.
3. Harganya mahal
Mungkin ini relatif. Bagi masyarakat kalangan atas, rapid test covid 19 mungkin bukan harga yang mahal, tapi bagi mereka yang memiliki ekonomi yang rendah, rapid test mungkin pemeriksaan yang harganya cukup mahal. Di pasaran, harga rapid test yang dijual sekitar 300.000 sampai 600.000 per alatnya. Sementara untuk satu dus kecil bisa jutaan atau bisa lebih murah bila dibeli satuan. Namun untuk rapid test yang berkualitas tentu harganya jelas lebih mahal lagi. Penyebab harga rapid test yang mahal dikarenakan biaya mahal untuk membayar uji penelitian. Penelitian untuk menguji rapid test tidaklah sebentar, butuh banyak biaya dan juga melibatkan banyak pihak. Sehingga tingginya biaya penelitian menyebabkan harga jual rapid test yang bersertifikat cukup mahal. Tidak semua rapid test covid 19 bersertifikat. Dan meskipun bersertifikat belum tentu terpercaya.
4. Harus sesuai indikasi
Memang, seseorang yang positif terinfeksi covid 19, bisa saja tidak ada gejala. Kategori seperti ini kita sebut Orang Tanpa Gejala atau OTG. Untuk itu pemerintah menghimbau agar setiap orang tetap diam di rumah bila tidak ada kepentingan mendesak. Untuk apa? Agar OTG tidak menularkan virus corona ke orang lain. Sebaliknya pasien positif ini diharapkan dapat sembuh sendiri dengan imunitas yang dimiliki.
Berhubung pemeriksaan swab membutuhkan biaya dan waktu yang lama, maka rapid test diperlukan. Dan rapid test ini terlebih dahulu diprioritaskan untuk pasien-pasien yang memiliki risiko kuat ke arah diagnosis covid 19. Misalkan pasien yang punya riwayat kontak erat dengan pasien covid 19. Atau mereka yang baru saja pulang dari daerah terjangkit.
Sementara orang-orang yang tidak bergejala, tidak memiliki riwayat kontak erat dengan pasien covid 19 dan tidak ada riwayat bepergian ke daerah terjangkit, sesungguhnya tidak memiliki indikasi untuk dilakukan rapid test. Namun bukan berarti tidak boleh. Boleh-boleh saja. Pemeriksaan mandiri tentu tidak dilarang. Namun tidak terlalu bermakna. Selama anda tidak punya gejala, masih berusia produktif dan tidak punya penyakit penyerta, lebih baik tetap di rumah saja.
5. Cenderung berbahaya
Mengapa berbahaya? Saya beri contoh. Rapid test covid 19 tetap punya peluang untuk false negative. Ini bisa terjadi karena banyak hal. Mungkin bisa terjadi karena cara pengerjaan tes yang kurang benar. Mungkin karena garis strip yang tidak terlalu jelas sehingga terbaca negatif dan mungkin juga karena faktor alatnya sendiri. Akhirnya hasil terbaca negatif. Kalau memang sesungguhnya pasien tidak terinfeksi, tentu tidak masalah. Namun apabila ternyata pasien itu sebenarnya positif, ini yang berbahaya. Pasien yang positif covid 19 diperiksa rapid test hasilnya negatif, akhirnya dengan percaya diri pergi keluar rumah dan menyebarkan penyakitnya ke orang sehat lain.
Masyarakat harus paham adanya kemungkinan false negatif dan false positif dari rapid test. Masyarakat harus tahu bahwa rapid test tidak terlalu akurat. Masyarakat harus tahu bahwa penegakan diagnosis covid 19 bukan dengan rapid test melainkan dengan swab tenggorok. Akan sangat berbahaya bila masyarakat terlalu percaya dengan hasil rapid test.
Tulisan ini bukan bertujuan untuk melarang atau menggiring opini bahwa rapid test covid 19 tidak perlu dilakukan. Melainkan untuk mengajak masyarakat agar lebih paham bahwa bagaimana indikasi yang benar untuk menjalani rapid test. Alangkah lebih baiknya memeriksakan diri dengan rapid test covid19 yang dikerjakan di fasilitas kesehatan atau laboratorium terpercaya, bukan membeli rapid test dari tangan importir atau reseller.
