Istilah alergi obat bukan lagi hal yang asing, karena kasus ini mudah dikenali dan sering terjadi. Orang awam sekalipun umumnya langsung dapat mengenali sebab gejala alergi timbul setelah konsumsi obat tertentu. Pada umumnya obat yang menjadi pencetus alergi antara lain antibiotik dan NSAID. Namun tidak menutup kemungkinan obat lain juga dapat menyebabkan alergi obat.
Manifestasi alergi obat sendiri bermacam-macam, bisa berupa gatal-gatal dan ruam pada kulit, demam, diare dan lain-lain. Namun gejala yang paling sering dikaitkan dengan alergi adalah gatal-gatal ataupun ruam pada kulit.
Pada tulisan ini kita akan lebih banyak membahas alergi obat anti tuberkulosis yang bermanifestasi pada kulit terutama dengan keluhan gatal baik atau tanpa ruam urtikaria. Manifestasi alergi lain mungkin saja terjadi, tapi kebanyakan gejala yang dialami pasien adalah keluhan gatal pada kulit.
Dari lini pertama obat anti tuberkulosis, obat Rifampicin dan Isoniazid yang tersering menjadi penyebab alergi obat, meski demikian obat lain ethambutol dan pyrazinamid juga terkadang bisa menjadi penyebab alergi obat. Onset timbulnya gatal-gatal setelah konsumsi obat bervariasi. Ada yang cepat dan ada yang timbul lambat. Dilaporkan ada kasus dimana pasien yang mengalami alergi lima menit setelah mengonsumsi OAT Rifampicin.
Manifestasi pada kulit dapat berupa gejala ringan seperti urtikaria minimal, maculopapular exanthema, bahkan buruk seperti Steven Johnson Syndrome atau Total Epidermal Necrolysis. Gejala gatal dapat disertai ruam.
Angka kasus alergi obat akibat obat antituberkulosis adalah 4,7%-23%.
Mengenali kasus alergi OAT tidaklah sulit, karena biasanya keluhan timbul setelah konsumsi OAT. Meski sebagian kasus, manifestasi alerginya timbul belakangan. Hal demikian kadang menyulitkan kita menegakkan diagnosis.
Ketika mendapati kasus alergi OAT, langkah pertama yang perlu kita lakukan sebagai dokter adalah menilai keparahan gejalanya. Apabila hanya timbul gatal-gatal ringan saja kita cukup memberi obat anti histamin saja tanpa perlu menghentikan obat antituberkulosis. Sambil kita juga perlu mengevaluasi apakah keluhan berkurang setelah pemberian anti histamin.
Keluhan gatal memang subjektif, namun kita juga bisa menilainya secara objektif. Misalnya dengan menginspeksi ruam urtikaria pada tubuh. Urtikaria generalisata tentu mengharuskan kita untuk menunda OAT dan memberikan anti histamin sambil menunggu keluhan berangsur menghilang.
Langkah berikutnya adalah dengan melakukan reintroduksi obat antituberkulosis setelah keluhan gatal menghilang. Reintroduksi obat antituberkulosis terdiri dari dua metode yaitu challenge dan desensitisasi. Challenge dilakukan dengan memberikan OAT dari dosis terkecil. Jika ditemukan alergi, maka dilakukan desensitisasi yang diawali dengan 1/10 dosis hari pertama. Setiap dosis dilipatgandakan dan diberi dua kali sehari hingga dosis yang direkomendasikan tercapai. Lanjutkan selama tiga hari sampai dosisnya diganti satu kali sehari. Jika timbul reaksi alergi selama proses desensitisasi, maka turunkan dosis sampai dosis tertinggi yang aman.
Desensitisasi bertujuan untuk menginduksi toleransi imunologis agar pasien alergi OAT dapat lebih mentolerir obat rifampisin atau isoniazid yang alergi. Rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk desensitisasi OAT sekitar 5 – 30 hari. Pada reaksi alergi yang berat, metode reintroduksi sebaiknya dihindari, seperti misalnya Steven Johnson Syndrome (SJS). Manifestasi SJS akibat alergi OAT kurang lebih sekitar 0,96% dari seluruh kasus alergi obat antituberkulosis.
Rifampicin dan isoniazid merupakan obat penting dalam regimen OAT. Karena kedua obat ini bukan hanya obat paling poten pada fase intensif namun juga obat yang hanya dipakai pada fase lanjutan. Sehingga apabila terjadi kemungkinan alergi terhadap kedua obat ini maka haruslah dilakukan reintroduksi. Pada kasus rifampicin yang gagal challenge, rifampicin diganti menjadi Steptomycin injeksi.
Referensi:
- Management of suspected drug-induced rash, kidney injury & liver injury (University of Cape Town)
- A rare case of rifampicin-induced urticaria confirmed by drug provocation test (indianJdrugsDermato)
- Antituberculosis drug-induced fixed drug erruption (Vaghela)
- Rare immediate hypersensitivity to rifampicin in a patient with tuberculosis requiring drug discontinuation (Nima Farah)
- Desensitization therapy for allergic reactions to antituberculosis drugs (Yoshihiro Kobashi)
- Steven johnson syndrome due to rifampicin (Konkola Mine Hospital)
- Tolerance Induction to Antituberculosis Drugs in a Patient With Stevens–Johnson Syndrome/Toxic Epidermal Necrolysis Overlap (Rodrigo Collado-Chagoya)
