dr. Samuel Pola Karta Sembiring Dokter umum lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Menyelesaikan studi pendidikan dokter pada tahun 2015. Tertarik dengan ilmu kedokteran dan bidang IT. Pernah mengabdi di RSUD Arga Makmur Bengkulu Utara dan bekerja di RSU Martha Friska Medan. Saat ini penulis sedang menjalani residensi Ilmu Bedah di Universitas Padjadjaran.

Disseminated Intravascular Coagulation (DIC)

1 min read

717_Disseminated_Intravascular_CoagulationDIC merupakan suatu sindrom klinik kompleks yang dapat mengakibatkan banyak penyakit serius lainnya. Penyakit ini umumnya ditandai dengan deposit intravascular pada fibrin dan peningkatan degradasi fibrin dan fibrinogen yang disebabkan kelebihan aktivitas protease, terutama thrombin dan plasmin dalam darah. DIC sangat bervariasi baik berdasarkan patofisiologinya maupun manifestasi kliniknya. Pada kebanyakan kasus, kemungkinan besar penyakit ini dimulai ketika darah terpapar factor jaringan yang dikeluarkan dari jaringan yang rusak, sel malignan atau endotel yang rusak. Ini berkaitan dengan pembentukan soluble fibrin, aktivasi platelet dan fibrinolisis sekunder.

DIC dapat menyebabkan perdarahan, trombosis pada pembuluh darah, hemorhagic tissue necrosis. Gangguan koagulasi dapat timbul dari pemakaian faktor koagulasi dan platelet dan meningkatnya aktivitas fibrinolisis. Di dalam praktiknya, DIC akut biasanya menunjukkan adanya perdarahan besar pada penderitanya. Pengeluaran darah dari cannulation sites merupakan ciri dari DIC ini. Pembentukan microthrombus dapat menimbulkan kerusakan organ yang ireversibel. Organ yang paling sering menjadi target adalah hati, paru-paru dan otak. Biasanya jika DIC ini berlangsung lama (kronik) maka dapat dikaitkan dengan keganasan (misal prostatic carcinoma).

Diagnosis DIC tergantung pada percobaan lab terhadap aktivitas fibrinolisis yang dipercepat. Dan biasanya hal ini disertai dengan penurunan level faktor koagulasi pada penderita. Hasil diagnosis DIC biasanya diperoleh:

–          Penurunan jumlah platelet

–          Prothrombin time (PT) memanjang dan aPTT umumnya memanjang.

–          Thrombin time (TT) memanjang

–          Kadar fibrinogen menurun

–          Tingginya FDP (fibrin degradation products) dan cross-linked fibrin degradation products (D-dimers)

Dasar penatalaksanaan DIC adalah pengobatan pada gangguan-gangguan utama DIC. Pasien lebih mudah meninggal akibat DIC daripada thrombosis atau perdarahan. Namun demikian, pengobatan spesifik pada DIC dapat berhasil dan jika terjadi perdarahan maka dianjurkan untuk meningkatkan blood products-nya. Umumnya untuk meningkatkan blood products ini kita dapat menggunakan platelet, fresh frozen plasma (FFP – sumber dari faktor koagulasi) dan cyroprecipitate (sumber fibrinogen). Namun dalam hal ini harus diperhatikan jumlah platelet dan hasil tes koagulasi terlebih dahulu.

Sampai saat ini yang menjadi kontroversial adalah penggunaan inhibitor koagulasi dan fibrinolisis. Walaupun heparin dapat mengurangi pemakaian faktor pembekuan dan fibrinolisis sekunder, namun heparin dapat meningkatkan resiko perdarahan dikarenakan efek antikoagulannya.

Diterjemahkan dari tulisan yang dimuat di buku:

Haematology Third Edition, Martin R. Howard and Peter J. Hamilton. Page:76

Kata kunci yang merujuk pada artikel ini:
penyakit DIC

dr. Samuel Pola Karta Sembiring Dokter umum lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Menyelesaikan studi pendidikan dokter pada tahun 2015. Tertarik dengan ilmu kedokteran dan bidang IT. Pernah mengabdi di RSUD Arga Makmur Bengkulu Utara dan bekerja di RSU Martha Friska Medan. Saat ini penulis sedang menjalani residensi Ilmu Bedah di Universitas Padjadjaran.

Bio Saya

BIO SAYA Pendidikan PPDS Ilmu Bedah Unpad 2022 Profesi Dokter RSUP HAM 2013 FK USU 2009 Pengalaman RSUP dr. Hasan Sadikin 2018 Tim Medis...
dr. Samuel Pola Karta Sembiring
36 sec read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *