dr. Samuel Pola Karta Sembiring Dokter umum lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Menyelesaikan studi pendidikan dokter pada tahun 2015. Tertarik dengan ilmu kedokteran dan bidang IT. Pernah mengabdi di RSUD Arga Makmur Bengkulu Utara dan bekerja di RSU Martha Friska Medan. Saat ini penulis sedang menjalani residensi Ilmu Bedah di Universitas Padjadjaran.

Melawan Infeksi Pada Marasmus dan Kwashiorkor

2 min read

Marasmus dan kwashiorkor biasanya dapat dikenali dengan mudah. Penyakit yang disebabkan intake nutrisi yang amat rendah ini umumnya ditandai dengan kondisi yang amat kurus tanpa ada lapisan lemak. Sementara kwashiorkor ditandai dengan adanya edema dikarenakan kurangnya asupan protein. Terkadang kita menemukan keduanya dalam satu kasus, yang biasa disebut marasmus-kwashiorkor.

Saat ini pemerintah dan juga praktisi medis berupaya habis-habisan untuk mengoreksi anak-anak dengan malnutrisi di Indonesia. Namun terkadang kita mengabaikan hal penting lain. Yaitu infeksi.

Ternyata, anak dengan malnutrisi tidak selalu menunjukkan tanda-tanda klasik infeksi. Ini masalahnya. Tidak selalu disertai dengan demam, takikardia ataupun takipnu. Hal ini menjadi faktor penyulit ketika kita ingin mengenali seorang anak malnutrisi disertai demam atau tidak. Apalagi infeksi pada malnutrisi dapat meningkatkan risiko kematian, sehingga persoalan “infeksi” bukan lagi problem sepele pada kasus malnutrisi.

Menurut informasi dari beberapa referensi, malnutrisi menyumbang 45% kematian pada anak. Biasanya hal tersebut dikarenakan infeksi yang tak ditangani. Dan kembali lagi ke pernyataan di atas. Acapkali kita lupa atau mengabaikan kemungkinan adanya infeksi pada anak-anak ini.

Malnutrisi berat entah itu marasmus maupun kwashiorkor dapat mengakibatkan organ sistem imun seperti kelenjar limfe, tonsil dan timus mengalami atrofi. Sel T, imunoglobulin A, dan sel fagosit juga berkurang. Sehingga tanda infeksi seperti leukositosis dan demam dapat tidak muncul pada malnutrisi berat. Dokter terkadang harus “pintar” menebak atau mencurigai kemungkinan infeksi pada malnutrisi.

Marasmus disebabkan intake yang sangat rendah hampir semua gizi, sementara kwashiorkor disebabkan kekurangan gizi protein. Berdasarkan referensi-referensi berbahasa inggris, keduanya disebut PEM atau Protein-Energy-Malnutrition. Namun terjemahannya dalam bahasa Indonesia masih belum. Beberapa referensi kita menyebutkan Kekurangan Energi Protein (KEP) dan sebagaian lagi menyatakan Malnutrisi Energi Protein. Sebenarnya istilah “Kekurangan Energi Protein” masih kurang tepat menggambarkan definisi Protein-Energy-Malnutrition.

Penduduk yang berstatus ekonomi rendah berisiko memiliki anak malnutrisi karena tidak dapat memenuhi kebutuhan gizi si anak. Selain itu anak-anak dengan mental retardasi, keganasan, cyctic fibrosis, gagal ginjal, penyakit genetik, penyakit neurologis, penyakit dengan diagnosis ganda (lebih dari satu), dan riwayat pernah dirawat di PICU juga berisiko akan mengalami malnutrisi. Anak-anak dengan gangguan absorpsi di usus pun memiliki risiko yang sama.

Umumnya penyakit infeksi yang sering dialami anak malnutrisi adalah diare, infeksi pernapasan baik pneumonia ataupun tuberkulosis, HIV dan malaria (khusus di daerah endemis malaria). Cara penanganan penyakit-penyakit ini tidak berbeda dengan individu tanpa malnutrisi. Yang membedakan hanyalah prognosisnya saja. Anak malnutrisi yang menderita penyakit-penyakit ini berprognosis buruk dan berisiko kematian.

Bakteri Shigella dan Campylobacter sering menjadi penyebab diare pada anak dengan kasus marasmus dan kwashiorkor. Untuk kasus-kasus ini dapat diterapi dengan pilihan antibiotik ceftriaxon atau pivmecillinam. Beberapa jurnal menyebutkan ciprofloxacin sebenarnya dapat dipakai, namun ini masih menjadi kontroversi berhubung obat golongan quinolon ini tidak dianjurkan untuk anak-anak karena dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan tulang. Sementara itu pada kasus diare yang memanjang dapat ditambah dengan obat metronidazole.

Kasus infeksi pernapasan dapat diobati dengan ampicillin 50 mg/kgBB IM atau IV /6jam ditambah dengan gentamicin 7,5 mg/KgBB IM atau IV setiap hari selama tujuh sampai sepuluh hari. Sementara untuk daerah yang risiko resistensinya tinggi, gunakan ceftriaxon 50 mg/kgBB IM atau IV setiap hari.

Memang pada kasus-kasus marasmus dan kwashiorkor, kita perlu peka dengan kemungkinan adanya infeksi pada pasien. Maka dari itu pemeriksaan kultur darah ataupun urin sebaiknya menjadi pemeriksaan yang rutin dikerjakan.  Agar kita bisa mendiagnosis secara dini kemungkinan adanya infeksi. Dengan demikian kita dapat pula mencegah risiko kematian pada anak dengan malnutrisi. Sebab kita tidak bisa mengandalkan hasil leukosit. Kita hanya akan sering mendapatka nilai leukosit yang normal.

Menemukan adanya bukti infeksi pada malnutrisi merupakan salah satu bentuk upaya untuk memperkecil angka kematian anak akibat malnutrisi. Diperlukan kepekaan praktisi medis untuk mencurigai kemungkinan infeksi pada kasus-kasus ini. Bila perlu, seluruh kasus marasmus dan kwashiorkor harus dianggap ada infeksi sampai terbukti negatif infeksi. Namun kita harus tetap bijak untuk tidak memberikan antibiotik sembarangan pada anak yang belum terbukti memiliki infeksi.

Tatalaksana gizi pada anak marasmus dan kwashiorkor sangatlah penting. Dengan tatalaksana yang tepat, risiko infeksi dapat dicegah. Sementara itu, pencegahan infeksi dengan imunisasi tidak boleh sembarangan. Pemberian imunisasi harus menunggu kondisi anak stabil terlebih dahulu.

Referensi:

  1. Marasmus (Medscape)
  2. Malnutrition in Children in Resource-Limited Countries (Praveen S. Goday
  3. Management of Complicated Severe Acute Malnutrition in Children (Indi Trehan)
[jetpack-related-posts]
dr. Samuel Pola Karta Sembiring Dokter umum lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Menyelesaikan studi pendidikan dokter pada tahun 2015. Tertarik dengan ilmu kedokteran dan bidang IT. Pernah mengabdi di RSUD Arga Makmur Bengkulu Utara dan bekerja di RSU Martha Friska Medan. Saat ini penulis sedang menjalani residensi Ilmu Bedah di Universitas Padjadjaran.

Bio Saya

BIO SAYA Pendidikan PPDS Ilmu Bedah Unpad 2022 Profesi Dokter RSUP HAM 2013 FK USU 2009 Pengalaman RSUP dr. Hasan Sadikin 2018 Tim Medis...
dr. Samuel Pola Karta Sembiring
36 sec read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *