dr. Samuel Pola Karta Sembiring Dokter umum lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Menyelesaikan studi pendidikan dokter pada tahun 2015. Tertarik dengan ilmu kedokteran dan bidang IT. Pernah mengabdi di RSUD Arga Makmur Bengkulu Utara dan bekerja di RSU Martha Friska Medan. Saat ini penulis bertugas tetap di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung sebagai dokter umum.

Rajin Berkumur Bisa Cegah COVID-19!

1 min read

Dalam bahasa Indonesia, berkumur itu berarti mengocok air/cairan dalam mulut. Sementara dalam bahasa Inggris, berkumur bisa berarti lebih luas. Jika kita terjemahkan, berkumur dalam bahsa Inggris berarti mouthwash dan gargle.

Apa bedanya mouthwash dan gargle? Jelas berbeda. Mouthwash itu berkumur yang hanya sebatas rongga mulut saja. Sedangkan gargle berkumur sampai pangkal tenggorokan dengan menengadahkan kepala, membuka mulut dan mengeluarkan napas hingga terdengar suara cairan bergelembung.

Berkumur pakai apa? Gunakan cairan atau obat kumur yang mengandung Povidone iodine 1%. Saat ini obat kumur yang mengandung bahan ini yang paling direkomendasikan. Karena povidone iodine efektif membunuh hingga 99,999% virus SARS CoV-2 dalam lima belas detik pemaparan! Sementara, berkumur dengan air biasa, tidak memiliki efek apapun terhadap virus SARS CoV-2.

Agar efektif, berkumur tidak hanya cukup di rongga mulut saja, tapi harus melakukan gargling juga. Lakukan mouthwash dan gargling selama 15 detik. Kemudian jangan makan dan minum selama 30 menit berikutnya.

Povidone iodine vs Chlorhexidine

Pernah dengar chlorhexidine? Jika anda sudah sering menggunakan produk antiseptik kumur, mungkin anda pernah mendengarnya. Chlorhexidine sama halnya dengan povidone iodine. Sama-sama kandungan antiseptik yang dipakai dalam antiseptik kumur.

Saat ini berkumur dengan obat kumur yang mengandung povidone iodine 1% merupakan pilihan terbaik.

Obat kumur yang mengandung Chlorhexidine pernah dilaporkan mengalami resistensi terhadap beberapa mikroorganisme. Sementara povidone iodine sampai saat ini belum pernah mengalami resistensi.

Pemakaian jangka panjang, amankah?

Biasanya, obat kumur povidone iodine 1% dipakai selama dua minggu pada penyakit-penyakit infeksi rongga mulut. Bahkan sebelum dua minggu, biasanya sudah ada perbaikian. Dokter THT sering meresepkan obat ini.

Namun, selama masa pandemi, obat kumur ini dapat dipakai selama kita berisiko. Itu artinya, selama masa pandemi, anda boleh saja menggunakan obat kumur ini.

Penelitian menunjukkan belum pernah ada dampak akibat obat kumur ini pada subjek yang berkumur dengan durasi 6 bulan, 1 tahun bahkan 3 tahun (bahkan dengan pemakaian daily use 6-8 kali/hari).

Namun demikian tetap lakukan pencegahan keamanan.

Sementara itu, perlu perhatikan kontraindikasi povidone iodine. Apa sajakah kontraindikasinya? Yaitu antara lain: individu yang tidak toleran terhadap povidone iodine, individu dengan gangguan tiroid serta ibu hamil dan menyusui.

dr. Samuel Pola Karta Sembiring Dokter umum lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Menyelesaikan studi pendidikan dokter pada tahun 2015. Tertarik dengan ilmu kedokteran dan bidang IT. Pernah mengabdi di RSUD Arga Makmur Bengkulu Utara dan bekerja di RSU Martha Friska Medan. Saat ini penulis bertugas tetap di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung sebagai dokter umum.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Spam Protection by WP-SpamFree

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.